5 Tim Esports Yang Tidak Membayar Gaji Pemainnya

5 Tim Esports Yang Tidak Membayar Gaji Pemainnya – Dunia esports memang sedang mengalami kemajuan yang cukup pesat selama satu dekade terakhir. Banyak saat ini pekerjaan di dunia esports seperti pro player , caster , analis , coach dan lain sebagainya sudah menjadi pekerjaan utama beberapa orang. Sebab gaji mereka melebih orang orang kantoran pada umumnya , apalagi jika tim tersebut sering menjuarai sebuah turnamen.

Namun dibalik besar dunia esports saat ini , tersimpan banyak hal dan kisah buruk yang menodai nama esports. Salah satunya adalah ada sebuah organisasi yang tidak membayarkan gaji para pemainnya.

Seperti yang kita ketahui , organisasi atau tim esports adalah tempat untuk para pemain menghasilkan pundi pundi rupiah. Namun apa jadinya jika suatu organisasi tidak membayarkan gaji kepada para pemainnya ?

Nah berikut ini akan kami coba rangkum 5 tim esports yang tidak membayar gaji para pemainnya sama sekali. Penasaran siapa saja mereka ? Yuk langsung saja kita simak informasinya berikut ini.

Galatasaray Esports

5 Tim Esports Yang Tidak Membayar Gaji Pemainnya

Di posisi pertama ada Galatasaray Esports yang tidak membayarkan gaji para pemain divisi League Of Legends mereka pada saat Summer Split 2019 lalu. Berita ini menyebar luas di media sosial sehingga membuat Riot Games harus memberikan sanksi kepada tim tersebut berupa larangan bermain di sebuah turnamen regional, Turkish League of Legend – Winter Split.

Riot sendiri sebenarnya sudah memberikan waktu tambahan agar pihak Galatasaray Esports bisa melunasi pembayarannya tersebut. Namun, tim asal Turki ini malah enggak menjalankan kewajibannya tersebut.

Mega Esports

Masih sama sama dalam game League Of Legends , kali ini ada tim asal Thailand yang bernama Mega Esports. Yap , tim ini diketahui tidak memberikan gaji kepada para pemainnya. Padahal performa mereka di musim 2019 bisa dibilang sangat baik. Hal ini yang akhirnya membuat Arnold Tan , CEO Mega Esports diberikan larangan untuk berpartisipas dalam turnamen apapun hingga 2022 mendatang.

Epsilon Esports

5 Tim Esports Yang Tidak Membayar Gaji Pemainnya

Selanjutnya ada organisasi asal negara Belgia yaitu Epsilon Esports. Hal ini berawal ketika dua mantan pemain divisi H1Z1 mereka yang mengatakan jika tim ini tidak membayar gaji sesuai dengan kesepakatan kontrak.

Menurut kontrak , setiap pemain akan menerima pendapatan sebesar 50 ribu dolar Amerika per tahun. Namun menurut pengakuan pemain pertama yang tidak ingin disebutkan namanya ini ia mengaku hanya mendapatkan sekitar 12.500 dolar pertahun. Sedangkan untuk pemain kedua dirinya hanya mendapatkan pendapatan sebesar 9.000 dolar. Angka tersebut sangat jauh berbeda dari kesepakatan awal yang dibuat kedua belah pihak.

Kedua pemain ini sempat mengirimkan email kepada Greg Champagne selaku CEO Epsilon Esports untuk meminta sisa gaji mereka sesuai dengan kontrak. Namun email tersebut tidak ditanggapi oleh sang CEO sehingga membuat kedua pemain ini sempat mengalami kesulitan finansial. Tidak hanya divisi H1Z1 , ternyata divisi CS:GO tim ini mendapatkan perlakukan yang sama. Salah satu pemainnya mengklaim jika 90% gajinya selalu terlambat.

Denial Esports

Tim esports yang enggak membayar gaji para pemainnya - Denial Esports

Denial Esports diketahui memiliki hutang sekitar 3000 dolar kepada para pemain Halo. Selain itu mereka juga enggan untuk membayar gaji divisi League Of Legends mereka. Selain dua divisi tersebut , ternyata masih ada banyak lagi divisi lainnya yang mengalami hal yang sama seperti Melee Super Smach BrosOverwatchPaladins, dan CS:GO .

Hal ini yang akhirnya membuat tim Denial Esports harus kehilangan seluruh divisi dan pemain mereka. Namun satu tahun berselang , tim ini kembali hadir dengan manajemen baru dan berjanji akan melunasi hutang-hutang lamanya. Bahkan mereka sempat menunjukkan sebuah transfer pembayaran sebagai etikad baik.

Namun sangat disayangkan tim ini hanya mampu bertahan selama 6 bulan. Mereka harus gulung tikar setelah diketahui terlilit hutang sebesar 100 ribu euro dengan para pemain Call of Duty-nya. Selain memiliki hutang kepada para pemainnya , tim ini juga memiliki hutang kepada pihak penyelenggara turnamen CWL Pro League karena pada saat itu mereka telah membeli slot seharga 40 ribu euro.

Ninjas in Pyjamas

Dan yang terakhir adalah Ninjas In Pyjamas. Di balik ketenarannya saat ini , ternyata ada kejadian buruk yang sempat dialami oleh organisasi esports asal Swedia tersebut. Hal ini berawal ketika salah satu pemain divisi CS:GO mereka yaitu Fifflaren , menceritakan pengalaman pahit selama berseragam NiP melalui sebuah talk show di kanall Richard.

Kala itu ia menceritakan betapa hancurnya manajemen lama dari tim asal Swedia ini mulai dari uang , penghindaran pajak, dan berbagai permasalahan lainnya. Bahkan di tahun 2013 lalu , semua hadiah yang dimenangkan oleh mereka tidak pernah diberikan oleh pihak NiP. Manajemen berdalih menggunakan uang tersebut untuk biaya perjalanan tim untuk ke ajang berikutnya.

Jika bicara soal gaji , mereka saat itu hanya menerima sekitar 1000 euro. Jumlah tersebut sangat rendah ketimbang gaji minimum di Swedia yang mencapai nilai 3500 euro. Fifflaren mengatakan semua ini dikarenakan akibat ulah CEO, yaitu Niklas Fischer yang membawa lari semua yang milik tim ini ke Thailand.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *